EN | ID
Ingat saya
ARTIKEL

Belajar Olah Madu Hutan dari Masyarakat Sumbawa

18 September 2017 kategori Artikel

Penulis: BW Admin

Dibaca: 78 Kali

Belajar Olah Madu Hutan dari Masyarakat Sumbawa

Madu menjadi salah satu kekayaan alam hutan Sumbawa yang telah dimanfaatkan sejak dulu. Madu hutan ini dipanen dari sarang lebah Apis dorsata yang dibuat jauh dari tanah. Mengantung di bawah tebing atau dahan pohon yang memiliki tinggi sekitar 20 meter, contohnya binong (Tetrameles nudiflora). Pohon ini digemari A. dorsata untuk membuat sarang tetapi kini semakin langka.

Masyarakat desa Batulanteh, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu desa penghasil madu hutan biasa menandai madu miliiknya dengan melintangkan patahan pohon kecil di bawah pohon yang ditinggali A. dorsata. Sebelum tahun 2007 pemrosesan dan pemasaran madu hutan masih sederhana dan dihargai murah (Rp 15.000 – 20.000 per botol 600 ml) sehingga pendapatan minimal. Tetapi sejak dibentuk Jaringan Madu Hutan Sumbawa (JMHS) pada 2007, warga kemudian mendapatkan pelatihan, pendampingan, dan bantuan dalam pemasaran.

Hasilnya madu diolah dengan lebih higienis (tidak diperas tangan), memiliki kemasan yang baik, dan pemasaran luas hingga ke berbagai wilayah Indonesia. Tahun 2016 produksi madu JMHS mencapai 2,6 ton dengan rata-rata penjualan Rp37.897.291 per bulan.

Pengelolaan secara berkelanjutan juga diterapkan ketika panen. Pertama madu dipanen, hanya diambil lapisan terluar sarang yang tidak memiliki telur lebah. Dengan cara ini sarang dapat dipanen kembali setelah dua minggu. Selain dibuat menjadi madu konsumsi, madu A. dorsata juga dapat diolah menjadi propolis, lilin lebah (beeswax), dan racun lebah (bee venom).

Sumber :

http://www.mongabay.co.id/2017/09/10/menjaga-hutan-memanen-madu-sumbawa/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Apis_dorsata

http://entnemdept.ufl.edu/creatures/MISC/BEES/Apis_dorsata.htm


Tulis Komentar

Komentar

Biodiversity Warriors Copyright ©2014-2017 All Right Reserved. Design by Paragraph