EN | ID
Ingat saya
ARTIKEL

Sangihe Pulau Terdepan yang Deklarasikan Diri sebagai Kabupaten Organik

19 November 2017 kategori Artikel

Penulis: BW Admin

Dibaca: 57 Kali

Sangihe Pulau Terdepan yang Deklarasikan Diri sebagai Kabupaten Organik

Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, menjadi kabupaten pertama di Indonesia yang mendeklarasikan diri sebagai kabupaten organik. Kabupaten yang merupakan salah satu kepulauan terluar di Indonesia tersebut juga berpotensi tumbuh sebagai wilayah mandiri pangan.

Manajer Program Ekosistem Pertanian Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia, Puji Sumedi, Jumat (17/11), mengungkapkan, sebagai wilayah yang dihuni gunung-gunung berapi, Kepulauan Sangihe memiliki tanah yang subur sebagai dampak dari debu letusan vulkanik.

“Kesuburan tanah tersebut memungkinkan wilayah ini tumbuh sebagai salah satu lumbung bagi sejumlah komoditas perkebunan nasional, terutama pala, kelapa, dan sagu,” kata Puji.

Tidak hanya menyuburkan, debu vulkanik dari gunung berapi di Sangihe juga membuat para petani tak lagi harus menggunakan pupuk kimia buatan pabrik untuk menumbuhkan dan menyuburkan berbagai tanaman pertanian maupun perkebunan. Dengan tanah yang kaya akan mineral serta hara, seluruh proses produksi pertanian dan perkebunan di Sangihe sudah mencukupi syarat organik.

Deklarasi sebagai kabupaten organik tersebut dilaksanakan di pendapa kabupaten oleh Bupati Sangihe Jabes Gaghana, Kamis (16/11). Deklarasi tersebut dilaksanakan bersama sejumlah perwakilan lembaga yang selama ini turut mengupayakan program organik di kabupaten ini, yaitu: Yayasan KEHATI, Burung Indonesia, YAPEKA, SAMPIRI, dan Ford Foundation.

Jabes berharap, kabupaten organik dapat terwujud secara penuh dalam dua tahun ke depan. Oleh karena itu, dia berharap KEHATI terus memberikan dukungan kepada petani di Kabupaten Sangihe guna mewujudkan status sebagai kabupaten organik.

Upaya Sangihe untuk tumbuh sebagai kabupaten organik sudah diretas sejak lama. Sebagai bagian dari upaya tersebut, sejak tahun 2009, pemkab wilayah ini menjalin kerja sama dengan KEHATI, dengan menempatkan pertanian organik sebagai perhatian utama. Kerja sama tersebut diarahkan pada upaya mendorong produk-produk pertanian dan perkebunan tersebut ke pasar ekspor, termasuk ke ceruk pasar khusus.

“Dengan mengembangkan pertanian organik, komoditas pertanian di Sangihe memiliki potensi dan peluang besar untuk masuk ke pasar internasional dan ceruk pasar khusus, yaitu pasar produk organik,” kata Puji.

Upaya tersebut diawali dengan memfasilitasi sekitar 300 anggota masyarakat untuk berhimpun dalam organisasi berbentuk koperasi. Mereka tergabung dalam kelompok swadaya masyarakat Asosiasi Petani Organik (APO)-Komunitas Masyarakat Sangihe Mandiri (Komasa).

KEHATI kemudian memfasilitasi APO-Komasa mendapatkan sertifikasi organik dari International for Marketecology (IMO), lembaga sertifikator produk organik untuk pasar Eropa. Komoditas perkebunan di Sangihe yang telah mendapatkan sertifikasi IMO antara lain, pala, sagu, dan kelapa. Sertifikasi ini meliputi delapan kampung yang beranggotakan sekitar 300 petani di Sangihe, dengan hasil panen mencapai kurang lebih 500 ton per tahun.

“Dengan sertifikasi ini, komoditas perkebunan dari Sangihe memiliki lisensi organik untuk bisa masuk ke pasar Eropa. Langkah ini merupakan bagian dari upaya KEHATI mengawal Pemkab Kepulauan Sangihe menjadi kabupaten organik,” kata Puji.

Pala merupakan andalan atau primadona bagi Indonesia, yang menguasai 80 persen pasar pala dunia. Dari seluruh produk pala nasional, Sulut— terutama dari ratusan pulau yang tersebar di tiga kabupaten kepulauan Sangihe, Sitaro, dan Talaud— menyumbang 85 persen.

Dari seluruh hasil pertanian dan perkebunan, pala kini menjadi komoditas yang memberikan hasil ekonomis paling besar bagi masyarakat Sangihe, menggusur cengkeh dan kelapa. Pala pun menjadi primadona, seperti halnya 400 tahun silam saat bangsa-bangsa Eropa datang berburu rempah-rempah ke Nusantara.

Sertifikasi IMO juga merupakan bagian dari upaya mengangkat kembali pala Sangihe ke pasar internasional. Kualitas pala Sangihe yang dipastikan organik menjadi nilai plus bagi produk ini untuk hadir di pasar khusus dengan harga yang lebih mahal. Petani-petani mulai menyadari peluang besar tersebut, sehingga mereka terdorong untuk secara konsisten menghindari pupuk dan pestisida kimiawi.

“Dengan cara itu, lingkungan mereka terjaga, ekspor pala meningkat, dan warga pun lebih sejahtera. Pada masa datang, jumlah petani yang mendapatkan sertifikasi diupayakan terus bertambah,” imbuh Puji.

Memacu potensi sektor pertanian berbasis organik juga sangat penting artinya bagi masa depan kelestarian ekosistem Kepulauan Sangihe. Dengan kesejahteraan dari sektor tersebut, masyarakat dan pemangku kepentingan tak lagi terpicu mengeksploitasi tambang di bumi kepulauan tersebut, terutama emas, yang dipastikan bakal merusak lingkungan.


Tulis Komentar

Komentar

Biodiversity Warriors Copyright ©2014-2017 All Right Reserved. Design by Paragraph