EN | ID
Ingat saya
JURNAL

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional untuk Kualitas Udara Indonesia dan Dunia yang Lebih Baik.

04 November 2019 kategori Jurnal

Penulis: Fadly Muhammad

Dibaca: 280 Kali

Selasa, 5 November 2019, merupakan Hari CInta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Selang 3 hari sebelumnya Sabtu. 2 November 2019. Bertempat di Gedung CAMPAIGN #ForChangeID. Cimsa ( Center For Indonesian Medical Students’ Activites ) mengadakan acara “BREATH” . Bits to Reduce Air Pollution’s Threats untuk memperingati International Day for Disaster Risk Reduction. Mengusung tema polusi udara , acara ini berfokus pada sejauh apa polusi udara di Indonesia, penyebab polusi tersebut, bagaiamana cara menanggulangi polusi udara tersebut dan langkah apa saja yang sudah dilakukan oleh Indonesia, khususnya provinsi Jakarta sebagai daerah dengan peringkat pertama pencemaran udara tertinggi di Asia Tenggara ( Greenpeace, 2019 ). Tulisan ini tidak akan membahas acara breath lebih lanjut, melainkan berfokus pada kaitannya antara polusi udara dan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Polusi udara adalah peristiwa dimana terdapatnya pollutant berupa substansi fisik, kimia atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan. Menurut PBB, Setiap tahun Tujuh Juta Manusia Mengalami Kematian dikaibatkan Polusi Udara, dan 90% Populasi menghirup polusi udara ( WHO,2012 ) data tersebut merupakan angka yang sangat fantastik. Terdapat dua sumber pencemar udara tersebut yaitu sumber bergerak dan sumber tidak bergerak. Sumber bergerak berupa kendaran menyumbang 75% pencemaran udara di Jakarta. Sementara sumber tidak bergerak yang terdiri dari pabrik, industri dll menyumbang 25% ( DLH DKI Jakarta, 2019 ). Tentunya tiap daerah memiliki presentasi yang berbeda namun tetap diakibatkan oleh faktor yang sama, yaitu Aktivitas Manusia.

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) diperingati setiap tahun dan bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta untuk menumbuhkan dan meningkatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita. Indonesia sebagai negara Megabiodiversity menduduki peringkat ke dua di dunia setelah Brazil keanekearagaman hayatinya . Terlepas dari kekayaan dan kelimpahan jenis flora dan fauna di Indonesia, Indonesia juga memiliki banyak spesies endemik yang hanya di temukan pada daerah tertentu, seperti Owa Jawa ( Hylobates moloch ).Owa Jawa menurut IUCN Redlist sudah tergolong kedalam status Endangered. Terdapat banyak faktor penyebab penurunan populasi Owa Jawa dan mahluk hidup lainnya seperti kerusakan dan hilangnya habitat, dan berbagai penyakit yang salah satunya diakibatkan oleh polusi udara. Polusi Udara menjadi salah satu penyebab kematian spesies endemik tersebut.

Melestarikan alam dan isinya merupakan kewajiban setiap individu manusia. MENGAPA ? Secara tidak langsung ekosistem memberikan jasa lingkungan yang sangat bernilai tinggi bagi kehidupan manusia. Salah satu contoh yang dapat kita ambil, Rangkong gading ( Rhinoplax vigil ) memiliki julukan “Petani Hutan Sejati”. Menurut Yokyok dari Rangkong Indonesia rangkong gading sebagai pemakan buah tidak mencerna biji nya, dan dapat membawa biji tersebut hingga berjarak 100km. biji hasil cernaan rangkong tersebut juga memiliki daya saing berkecambah yang lebih tinggi dibandingkan biji yang bukan hasil cernaan oleh rangkong. Berapa biaya yang harus dikeluarkan manusia untuk menanam biji di tengah hutan ? Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk memupuk dan memastikan pohon yang kita tanam dihutan tumbuh hingga dewasa ? dan tentunya Berapa biaya yang dikeluarkan manusia untuk membersihkan udara dan menyediakan oksigen dan mengobati 7 juta orang yang mati akibat polusi udara? Hal tersebut hanyalah satu dari sekian contoh jasa lingkungan yang diberikan oleh ekosistem di Indonesia yang hanya melibatkan satu spesies yaitu Rangkong gading. Tentunya masih banyak jasa lingkungan lain yang jika dihitung secara matematik akan bernilai lebih dan menguntungkan bagi manusia itu sendiri.

(Foto : Survei Kelelawar di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango )

Terakhir, Sebagai manusia yang merupakan predator puncak, sudah saatnya kita bergerak untuk menanggulangi seluruh bencana yang mengakibatkan rusaknya lingkungan kita. Kita dapat mengubah budaya dan kebiasaan hidup kita dan Memulai dari hal kecil seperti mengurangi penggunaan kantong plastik, membawa tumblr minum, menggunakan kendaraan umum dan mulai menanam pohon. Hal kecil tersebut jika dilakuakan secara besar besaran akan berdampak bagi Indonesia dan Dunia. Untuk menutup tulisan kali ini, saya akan mengambil quotes dari tokoh konservasionis terkemuka di dunia yaitu Bapak Aldo Leopold. Beliau berkata ““The last word in ignorance is the man who says of an animal or plant: 'What good is it?” .  


Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Biodiversity Warriors Copyright ©2014-2019 All Right Reserved. Design by Paragraph