EN | ID
Ingat saya
JURNAL

Tikusan Kerdil, Sang Pengembara Musim Dingin yang Pemalu

24 May 2019 kategori Jurnal

Penulis: Ahmad Baihaqi

Dibaca: 80 Kali

Tikusan kerdil termasuk dalam suku Rallidae yang merupakan kelompok ayam-ayaman berukuran sedang dan tersebar luas di dunia yang hidup di daerah rawa. Nama lain Tikusan kerdil adalah Baillon’s Crake (Inggris).

Burung ini berukuran kecil, yaitu 18 cm dan memiliki paruh yang pendek berwarna kuning. Iris mata berwarna merah, mahkota dan tubuh bagian atas berwarna cokelat, bercoret hitam dan putih. Dagu berwarna putih, dada dan muka berwarna abu-abu dengan garis mata gelap. Tubuh berwarna cokelat keabu-abuan dengan coretan putih pada punggung. Pada sisi bagian bawah tubuh dan ekor terdapat garis putih halus. Tungkai kuning kehijauan.

Tikusan kerdil termasuk burung pemalu yang suka menyusup untuk berlindung dan bersembunyi di daerah rawa yang lebat daripada mencoba lari dari pemangsa. Burung pemalu ini lebih suka berjalan walaupun termasuk pelari yang baik. Menghuni rawa-rawa dipinggir danau dan payau berumput. Jika terancam, akan berjalan dengan cepat tetapi halus dan masuk ke semak.

Tikusan kerdil merupakan burung pengembara yang berasal dari Siberia dan Asia timur, ke selatan sampai Iran dan India utara, kadang di Sumatera dan Sulawesi. Pada musim dingin, bermigrasi ke India, Sri Lanka dan Myanmar, dan dari China selatan sampai Indonesia dan Filipina.

Karena faktor cuaca yang sangat ekstrim di negara asalnya, Tikusan kerdil bermigrasi ke daerah yang memiliki suhu yang mendukung dan menyediakan sumber pakan.

Kebanyakan merupakan pengunjung musim dingin yang jarang ke daerah dataran rendah dan berbukit, jarang ke selatan sampai Jawa. Di Pulau Jawa, burung migrasi ini dapat dijumpai di Bandung dan Jakarta.

Di Jakarta sendiri, Tikusan kerdil teramati di Suaka Margasatwa Muara Angke, Jakarta Utara. Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) merupakan salah satu kawasan konservasi alami yang masih tersisa di Ibu Kota dan merupakan Hutan Mangrove terakhir di Jakarta. SMMA memiliki luas 25,02 Ha.

Belum banyak masyarakat yang mengetahui kawasan ini karena memang areal kawasan ini dikelilingi perumahan mewah. Padahal, kawasan ini sebenarnya memiliki peran penting untuk menjaga laut Jakarta tetap terjaga dan mencegah terjadinya banjir pasang surut air laut.

Namun, kehadiran burung migrasi di Jakarta tidak semulus perjalanan dari negara asalnya, keberadaan makhluk bersayap ini tak luput dari perburuan, baik untuk diperdagangkan maupun menjadi santapan di meja makan. Perburuan satwa liar, terutama burung migrasi di Indonesia masih kerap terjadi, perlu kerjasama berbagai pihak untuk menekan angka perburuan tersebut, salah satunya melalui sosialisasi peran ekologis satwa liar di alam.

 

Referensi: Buku Panduan Lapangan Burung Burung Sumatera Jawa Bali Kalimantan

Foto: Ahmad Baihaqi


Bagikan:

Tulis Komentar

Komentar

Biodiversity Warriors Copyright ©2014-2019 All Right Reserved. Design by Paragraph